Kamis, 06 November 2014

Berjuang Adalah Keharusan; Mari Maju


SALAM PERJUANGAN, 
SALAM PERSATUAN BURUH DAN RAKYAT, 

Perkenalkan namaku Dadang E Sulaeman
Aku mau sedikit berbagi pengalaman yang mungkin kecil buat kawan-kawan, tetapi mudah-mudahan punya manfaat besar.
Awal Tahun 2002 menjadi awal dimana aku menjadi bagian kaum buruh dan sudah jadi rutinitas bagi ku bekerja di  PT NIPPON PAINT CO.LTD,  yang sekarang menjadi PT NIPSEA PAINT CHEMICALS di kawasan industri Ancol. Sebagaimana buruh lainnya, saya adalah buruh biasa yang baru masuk melalui masa percobaan 6 bulan dan setelah itu diangkat menjadi buruh tetap. Rutinitas di tempat kerja sepertinya biasa saja, walaupun ketika itu banyak pembicaraan kecil sesama buruh yang tidak puas dengan perlakuan perusahaan.Tahun 2003 terbentuklah serikat pekerja SP KEP SPSI karena walau bagaimanapun penting bagi kita untuk punya wadah guna menampung Aspirasi dari orang per orang yaitu dalam bentuk Organisasi yang mempunyai kekuatan Hukum. Singkat kata, kejanggalan mulai terlihat nyata di tahun 2006, dimana buruh baru sulit sekali untuk diangkat menjadi buruh tetap. Dari persoalan itulah, obrolan kami  semakin gencar  antar sesama anggota/buruh. Pada saat itu aku Cuma sebagai penonton mungkin dalam bahasa ejekan sekarang adalah PNS ( Penitip Nasib Sejati ). Sampai tahun 2009, para pengurus mulai lebih berani berlawan menuntut hak buruh tetapi bukan kemenangan yang diraih melainkan ganjaran berupa PHK yang diterima oleh para pengurus yang berani.
Aku berpikir bagaimana cara untuk memulai lagi perlawanan, maka aku mulai banyak belajar tentang hukum perburuhan ataupun sejarah masa lalu, serta bagaimana cara kita menjalankan organisasi yang hampir dibilang tidak berjalan di tempat kerjaku, disamping tidak adanya rutinitas pendidikan buat anggota dll. Pada intinya, pengetahuan mereka yang minim/kurang yang membuat tinggkat ketakutan jadi sangat tinggi, apa lagi provokasi dan intimidasi/penekanan dari pihak perusahaan sehingga melahirkan kata biasa kalau buruh itu MISKIN, apalagi didukung dengan omongan kalau miskin adalah takdir dan buruh mogok itu gak tahu diri atau tidak bersyukur. Padahal, jelas di dalam Alqur’an Allah berfirman bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum itu tidak merubahnya sendiri. Dengan kita menuntut hak demi merubah kehidupan menjadi lebih baik itu artinya kita bersyukur yang sangat luar biasa kepada Tuhan, karena kita bisa memanfaatkan apa yang Tuhan berikan yaitu sebagai makhluk sempurna karena mempunyai akal dan pikiran, selain bersyukur pada saat ibadah atau ucapan.

Selasa, 28 Oktober 2014

Sumpah Pemuda; Membangun Organisasi Rakyat

Pidato Sambutan Martuti, Wakil Sekjen II PP FBLP (Pengurus Pusat Federasi Buruh Lintas Pabrik) Menyambut Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2014



Saudara sekalian

86 tahun silam, pemuda pemudi dari berbagai wilayah nusantara berkumpul di Batavia mengucapkan ikrar sumpah pemuda untuk lepas dari penjajahan. Semangat perlawanan bergelora di tiap kata yang mengalir dari sanubari kaum muda tersebut.

Kini, kita sudah hidup di negeri yang merdeka, tentu perlu bersyukur pada perjuangan generasi sebelumnya. Generasi lalu yang tak punya patah semangat, apalagi mundur dari kehendak untuk merdeka. Generasi yang penuh semangat juang, membangun organisasi-organisasi rakyat sebagai alat perjuangan merebut hak, merebut kemerdekaan.

Apa yang bisa kita ambil dari semangat sumpah pemuda? Semangat membangun organisasi sebagai alat juang. Bukan sembarang organisasi tapi organisasi kerakyatan yang mengemban tujuan dan cita bebas dari penindasan apapun hambatannya. Organisasi kerakyatan yang mampu mengumpulkan rakyat untuk saling bantu, saling bersolidaritas mengatasi hambatan. Sehingga bukan karena ada hambatan maka berhenti berjuang, tapi karena ada hambatan maka semakin kuat untuk mengemban perjuangan. Itulah nilai – nilai sumpah pemuda yang sebaik-baiknya kita  serap agar kita semakin kuat, semakin kasih pada sesama rakyat.

Dalam hal ini, FBLP, sebagai salah satu organisasi rakyat ingin merebut hak dan kemerdekaan buruh dari belenggu penindasan. Di dalam FBLP kita berkumpul bukan semata karena kita senang kumpul tapi kita mau dan hendak bicara tentang persoalan dan bagaimana mengatasinya.

Kesulitan dan kesukaran pasti ada karena jalan merubah serta merintis pasti penuh onak dan duri. Tapi justru kesulitan dan kesukaran yang membuat rakyat kecil tangguh, dan tidak patah arang. Dan itu lah kita, terbiasa dengan kesukaran dan kesulitan tapi tak pernah berhenti berpikir mengatasinya, bersama, bukan sendiri – sendiri. Siapa saja yang menjadi tangguh terbentuk dari kesulitan dan kesukaran, bukan kemudahan. Saya, selaku pengurus PP FBLP, ingin menyampaikan kepada kawan-kawan, mari jadi tenaga penggerak perubahan. Suka dan duka mari kita atasi bersama, bergandeng tangan. Kita jadikan bumi Sragen menjadi bumi yang ramah dengan rakyatnya sendiri, siapa kita? Ya kita, rakyat, yang terbiasa kerja kerja kerja sedari dulu, setiap hari dan sekarang kita kumandangkan kerja kerja kerja untuk perjuangan, untuk perubahan yang lebih baik, tanpa penindasan.

(ucapkan terima kasih pada semua, karena mengikuti acara yang sederhana dan mungkin punya kelemahan dan kekurangan. Semoga acara yang disusun oleh buruh-buruh DMST I Sragen, bermakna bagi kita semua. Salut untuk Kawan-kawan FBLP DMST I yang kini ditelantarkan perusahaan, padahal sebenarnya berhak diangkat jadi buruh tetap, karena sudah bertahun-tahun memberi keuntungan pada perusahaan. Terima kasih

Sragen, 28 Oktober 2014 
Martuti 

Minggu, 19 Oktober 2014

Berikut Komponen KHL Jakarta yang TIDAK MASUK AKAL


  1. Perhitungan item Rekreasi nilainya sangat rendah, yakni sebesar Rp. 1.916.67/bulan
  2. Perhitungan nilai kebutuhan air sebesar Rp. 9.360, tidak mencerminkan kebutuhan sesungguhnya. Karena untuk kebutuhan air minum saja sebanyak 2 liter per hari atau 60 liter per bulan setara dengan 4 galon, belum menghitung kebutuhan untuk mandi, wudhu
  3. Item Transportasi hanya dihitung sebesar Rp. 5.750 untuk sekali jalan, realitasnya bisa mencapai RP. 7.000 sekali jalan atau Rp. 14.000 /hari untuk pulang pergi atau sekitar Rp. 420.000/bulan
  4. Kebutuhan daging hanya dihitung 0.75 Kg per bulan, atau sekitar Rp. 47.000/bulan
  5. Kebutuhan ikan dihitung hanya Rp 32.856/bulan
  6. Kebutuhan Pendidikan hanya menghitung kebutuhan baca tabloid mingguan dan radio 4 band yang sudah usang ( kemudain dibagi 2 nilainya atau sekitar Rp. 14.000 saja
  7. Dibanyak daerah, kebutuhan rumah hanya dihitung sewa satu kamar
  8. Kebutuhan teh dan Kopi di Jakarta dihitung tidak lebih Rp. 12.926/bulan
  9. Kebutuhan kesehatan ( termasuk kebutuhan sabun, shampo, deodorant, pasta gigi, cukur) hanya sekitar Rp. 59.255.50/bulan

Bangkit dan Lawan Pelaku Kekerasan Seksual


KBR68H – Berbagai kasus kekerasan seksual, membuat kaum hawa cemas. Kekerasan  tidak semata berlangsung di tempat publik, tapi di lingkungan domestik. Pelakunya bisa melibatkan orang terdekat. Konferensi Perempuan Jakarta pun digagas. Wadah menyatukan suara menuntut Ibu Kota yang aman dan ramah bagi perempuan.

Thin Koesna bercerita tentang pelecehan seksual yang dialaminya. Sekitar lima bulan lalu sepulang kerja. Saat itu metromini tujuan Tanjung Priuk – Pulo Gadung yang ditumpanginya penuh sesak. “Astagrifirullah…saya lihat ke belakang, masya Allah, saya bilang ‘Maaf mas itu’, memang sudah terbuka, penisnya terbuka dan baju saya juga kena basahnya itu. Itu yang buat aku gak nyaman dan aku teriak ‘Kenapa anda ini? mending penismu itu besar, penismu itu kecil’. Saya memang berbicara seperti itu supaya menjatuhkan mentalnya dia. Orang-orang pada kaget terbengong-bengong gak nyangka bakal diomongin seperti itu,” katanya.

ShareThis