Selasa, 22 April 2014

Edisi Belajar Ekonomi Politik: Mau Bahagia dan Sehat? Kurangi Jam Kerja




Tiap hari selasa, dua minggu sekali, jam 7 malam, buruh di KBN Cakung diskusi dan belajar ekonomi politik di sekretariat FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik). Salah satu sahabat dari LIPS, Abu, bersedia meluangkan waktu bagi teman-teman buruh bersama belajar ekonomi politik. Kenapa belajar bersama? Karena menurut Abu, ia butuh banyak observasi lapangan dalam belajar ekonomi politik dari teman-teman buruh, sementara teman- teman buruh membutuhkan pengetahuan untuk menyadari, memahami realita yang melingkupinya.

Rejim Pabrik, demikian Abu memulai pelajarannya. Disebut Rejim Pabrik karena sistem pembagian kerja d pabrik adalah hirarkis, sepihak dan buruh tidak pernah ditanya mau mengerjakan apa berapa jumlah barang yang hendak diproduksi. Buruh dipaksa bekerja keras untuk menghasilkan barang tapi bukan untuk dirinya.

Senin, 21 April 2014

Pemogokan Buruh Terbesar di China

Puluhan ribu buruh China mogok 6 hari 

20 April 2014 

Pemogokan Terbesar Dalam Sejarah China Memasuki Hari ke 6: Polisi Menahan Organiser, Buruh Melawan Pasukan SWAT

Pemogokan terbesari dalam sejarah China memasuki hari ke 6, melawan upaya pemerintah menekan buruh yang sedang berjuang melawan ketidak adilan ekonomi dan sosial. Polisi menahan beberapa organisert pemogokan di pabrik Yue Yuan, yang memproduksi sepatu untuk Nike dan Adidas.

Ketika situasi darurat, ribuan buruh semakin marah setelah manajemen pabrik sepenuhnya mengingkari pelanggaran terkait pembayaran jaminan sosial mereka. Buruh di Dongguan, yang eksis sebagai gerakan hak buruh terbesar, melakukan aksi solidaritas dengan pemogokan Yue Yuen. Buruh dalam jumlah besar di Dongguan – sekitar ribuan- turun ke jalan melakukan demonstrasi atas ketidak adilan upah dan penindasan pemerintah terhadap buruh migran dan menuntut pemerintah supaya membayar jaminan sosial kepada buruh.

Buruh Dongguan memperingatkan buruh Yue Yuen yang mogok bahwa pemerintah dan perusahaan yang ingin menggunakan kekuatan untuk melwan mereka.

Produksi pabrik hampir lumpuh, sementara kader partai mulai melakukan kampanye melawan buruh dengan menyebut mereka “pengkhianat”. Polisi menahan beberapa organiser. Para pemogok bertempur melawan pasukan khusus kepolisian SWAT, di jalanan. Mereka melempar botol mineral ke arah pasukan kepolisian SWAT, yang secara brutal menyerang dan menahan beberapa dari mereka.

Saat istri seorang organiser belajar bahwa polisi menahan suaminya semenjak malam ke lima, ribuan orang menyerbu pusat administrativ dan berteriak agar Mr. Yang dibebaskan segera.

Menurut Shenzhen Chunfeng dari Kantor Layanan Perselisihan Buruh pada 17 April, polisi menahan buruh termuda yang ikut mogok di rumah mereka dan membawa mereka. Hari berikutnya, ribuan buruh turun ke jalan menuntut pembebasan mereka, namun aksi demonstrasi mereka diblok dan banyak demonstran yang dibawa oleh polisi. Beberapa tampaknya ditahan hanya karena mengambil gambar kerusuhan. Banyak polisi berbaju biasa – sekitar 100 orang – dibaurkan bersama para demonstras untuk mencuri HP para demonstran sehingga mereka tidak bisa mengambil satupun gambar. .

Jumlah buruh yang berkumpul di luar pabrik dan menolak bekerja berjumlah lebih dari 20 ribu.

Perusahaan dan pemerintah membuat 3 tawaran, berharap bisa meyakinkan para peserta mogok untuk kembali bekerja. Semula negara dan perusahaan mengakui bahwa mereka belum membayar jaminan sosial kepada buruhnya, dan mereka menjanjikan membiayai perumahan buruh tapi buruh tidak menyerah dan pemogokan pabrik terus berlangsung.

Menurut Shenzhen Chunfeng Kantor Layanan Jasa Perselisihan Buruh, buruh melanjutkan mogok mereka karena respon yang mereka peroleh dari pemerintah tidak memuaskan. Apa yang tampak membuat mereka marah adalah fakta bahwa manajemen pabrik mengingkari bahwa mereka mengingkari janji mereka untuk membayar kontribusi bagi pensiun buruh dan jaminan sosial mereka.

Pemerintah tidak bsa mengontrol gerakan buruh migran. Pekerjaan paling rendah dan buruk diberikan kepada negeri berpenduduk 300 juta buruh migran- rakyat yang ditekan untuk berpindah ke kota dan bekerja di pabrik demi mencari uang supaya mereka bisa menafkahi keluarganya.

Negara secara brutal melawan proletariat. Sementara buruh urban kerah putih bahkan sanggup memiliki 2 atau 3 rumah, sistem hukou, sistem registrasi rumah tangga, telah membagi kelas buru menjadi dua kategori yakni urban dan rural. Perampasan akses buruh migran yang meninggalkan desa mereka untuk bekerja di pabrik di kota, akses layanan kesehatan, akses pendidkan seperti warga kota lainnya. Mereka sering menerima diskriminasi dalam hal upah dan perlakuan. Buruh migran mendapat perlakukan terburuk di tempat kerja, biaya hidup, sebagian dari mereka terpaksa hidup miskin denganbekerja membuat sepatu bagi korporasi barat. Mayoritas seringkali dipaksa bekerja tanpa upah. Pemberontakan sering disebabkan oleh tindak kriminal para bos terhadap buruh – buruhnya bila buruh menuntut haknya. Di China, perantara rantai subkonstraktor ngotot bahwa buruh harus selalu yang terakhir dibayar. Ya, itu bila mereka melawan. Januari biasanya merupakan bulan pemogokan, dimana buruh migran berhenti bekerja untuk menekan buruh membayar upah mereka sehingga mereka bisa mendapat uang bagi keluarga mereka sebelum Tahun Baru China. Di sana ada lebih dari 70 pemogokan di industri bagian tenggara di minggu pertama Januari tahun ini. Pemogokan semakin sering semenjak itu, ratusan pemogokan, dimana jumlah buruh yang berpartisipasi lebih dari 10 ribu buruh, dan mogok tanpa henti.
diterjemahkan dari 
http://revolution-news.com/biggest-strike-chinas-history-enters-6th-day-police-arrested-organizers-workers-battle-swat-troops/


Senin, 07 April 2014

Riwayat Singkat Marsinah


Marsinah lahir tanggal 10 April 1969 dari pasangan Sumini dan Mastin, dia adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Usia tiga tahun ibu Marsinah, Sumini, meninggal dunia, ia pun diasuh oleh neneknya, Pu’irah yang tinggal bersama bibinya, Sini, di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Selama menempuh pendidikan di SD Karangasem 189, SMPN 5 Nganjuk, hingga SMA Muhammadiyah, Marsinah dikenal sebagai siswi cerdas dan berprestasi. Sayang kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan seperti yang ia cita-citakan yakni masuk IKIP. Karena pekerjaan di desa semakin sempit, Marsinah pun memutuskan mengadu nasib di kota. Ia pertama bekerja di pabrik sepatu BATA tahun 1989, setahun kemudian pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri sebelum akhirnya ia ditempatkan di cabang perusahaan tersebut di Siring, Porong, Sidoarjo.

Kamis, 03 April 2014

Analisa Hasil Putusan Pengadilan Kasus Marsinah (II)




C. Pembelaan

Dalam hal pembelaan yang dilakukan oleh terdakwa Mtr oleh penasehat hukum terdakwa diantaranya adalah :

a) Perkara terdakwa tidak dapat dipertimbangkan secara sendiri tetapi harus ditinjau secara bersama. Dalam perkara tersebut turut terdakwa lainnya dalam perkara yang sama. Sementara dalam pemeriksaan ternyata perbuatan yang didakwaankan kepada terdakwa-terdakwa dan turut terdakwa didakwa oleh penuntut umum dilakukan sendiri-sendiri.

b) Para terdakwa serta para turut terdakwa dalam perkara sendiri sebagai terdakwa dan dalam perkara turut terdakwa sebagai saksi (kecuali dalam perkara ini) secara konsisten, mencabut keterangannya dalam BAP dengan alasan keterangan tersebut tidak benar karena diberikan dalam keadaan tertekan fisik dan atau psikis.

c) Para saksi (Ys,Bw,Ap,Wd,Spt dan Sw) dalam perkara sendiri (masing-masing) sebagai terdakwa secara eksplisit mencabut keterangannya yang diberikan sebagai saksi dalam perkara ini.

d) Judex Factie telah salah dalam menerapkan hukum pembuktian, karena para saksi yang dimintai keterangan adalah para terdakwa dalam perkara dengan dakwaan yang sama.

ShareThis