Senin, 07 April 2014

Riwayat Singkat Marsinah


Marsinah lahir tanggal 10 April 1969 dari pasangan Sumini dan Mastin, dia adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Usia tiga tahun ibu Marsinah, Sumini, meninggal dunia, ia pun diasuh oleh neneknya, Pu’irah yang tinggal bersama bibinya, Sini, di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Selama menempuh pendidikan di SD Karangasem 189, SMPN 5 Nganjuk, hingga SMA Muhammadiyah, Marsinah dikenal sebagai siswi cerdas dan berprestasi. Sayang kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan dirinya untuk melanjutkan pendidikan seperti yang ia cita-citakan yakni masuk IKIP. Karena pekerjaan di desa semakin sempit, Marsinah pun memutuskan mengadu nasib di kota. Ia pertama bekerja di pabrik sepatu BATA tahun 1989, setahun kemudian pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri sebelum akhirnya ia ditempatkan di cabang perusahaan tersebut di Siring, Porong, Sidoarjo.

Kamis, 03 April 2014

Analisa Hasil Putusan Pengadilan Kasus Marsinah (II)




C. Pembelaan

Dalam hal pembelaan yang dilakukan oleh terdakwa Mtr oleh penasehat hukum terdakwa diantaranya adalah :

a) Perkara terdakwa tidak dapat dipertimbangkan secara sendiri tetapi harus ditinjau secara bersama. Dalam perkara tersebut turut terdakwa lainnya dalam perkara yang sama. Sementara dalam pemeriksaan ternyata perbuatan yang didakwaankan kepada terdakwa-terdakwa dan turut terdakwa didakwa oleh penuntut umum dilakukan sendiri-sendiri.

b) Para terdakwa serta para turut terdakwa dalam perkara sendiri sebagai terdakwa dan dalam perkara turut terdakwa sebagai saksi (kecuali dalam perkara ini) secara konsisten, mencabut keterangannya dalam BAP dengan alasan keterangan tersebut tidak benar karena diberikan dalam keadaan tertekan fisik dan atau psikis.

c) Para saksi (Ys,Bw,Ap,Wd,Spt dan Sw) dalam perkara sendiri (masing-masing) sebagai terdakwa secara eksplisit mencabut keterangannya yang diberikan sebagai saksi dalam perkara ini.

d) Judex Factie telah salah dalam menerapkan hukum pembuktian, karena para saksi yang dimintai keterangan adalah para terdakwa dalam perkara dengan dakwaan yang sama.

Jumat, 28 Maret 2014

Analisa Hasil Putusan Pengadilan Kasus Pembunuhan Marsinah (I)




I. LATAR BELAKANG DAN PERMASALAHAN

Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya)—pabrik tempat kerja Marsinah resah karena ada kabar kenaikan upah menurut Surat Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok. Pada minggu-minggu tersebut, Pengurus PUK-SPSI PT. CPS mengadakan pertemuan di setiap bagian untuk membicarakan kenaikan upah sesuai dengan himbauan dalam Surat Edaran Gubernur. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala Bagian. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok. Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa. Aparat dari koramil dan kepolisian sudah berjaga-jaga di perusahaan sebelum aksi berlangsung. Selanjutnya, Marsinah meminta waktu untuk berunding dengan pengurus PT. CPS. Perundingan berjalan dengan hangat. Dalam perundingan tersebut, sebagaimana dituturkan kawan-kawannya. Marsinah tampak bersemangat menyuarakan tuntutan. Dialah satu-satunya perwakilan dari buruh yang tidak mau mengurangi tuntutan. Khususnya tentang tunjangan tetap yang belum dibayarkan pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah perundingan yang melelahkan tercapailah kesepakatan bersama. Namun, pertentangan antara kelompok buruh dengan pengusaha tersebut belum berakhir. Pada tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa dasar atau alasan yang jelas, pihak tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama.

Rabu, 26 Maret 2014

MARSINAH PAHLAWAN KU



Satu,yang harus kawan-kawan tahu
Kematian Marsinah bukan mati biasa,"tapi"
Kematian Marsinah di bunuh oleh orang
Yang Tidak Bertanggung Jawab

Sepahit apa luka yang di torehkan Marsinah,"tapi"
Tidak sedikitpun goyah hati nya untuk mundur
Dalam perjuangan

Marsinah, air matamu membangkitkan
Marsinah, senyumanmu menguatkan
Marsinah, genggamlah tangan-tangan kami
Dalam keberanian mu

Karena kami yakin Marsinah hadir di tengah-tengah kami
Untuk menyatukan tangan-tangan kami
Membongkar Kasus Pembunuhan Marsinah

Marsinah,,tersenyumlah karena dari hari ke hari
Akan hadir Marsinah-Marsinah baru
Untuk meneruskan perjuanganmu
Marsinah pahlawanku

Jakarta 25 maret 2014
Lanang jagad

ShareThis