Selasa, 28 Oktober 2014

Sumpah Pemuda; Membangun Organisasi Rakyat

Pidato Sambutan Martuti, Wakil Sekjen II PP FBLP (Pengurus Pusat Federasi Buruh Lintas Pabrik) Menyambut Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2014



Saudara sekalian

86 tahun silam, pemuda pemudi dari berbagai wilayah nusantara berkumpul di Batavia mengucapkan ikrar sumpah pemuda untuk lepas dari penjajahan. Semangat perlawanan bergelora di tiap kata yang mengalir dari sanubari kaum muda tersebut.

Kini, kita sudah hidup di negeri yang merdeka, tentu perlu bersyukur pada perjuangan generasi sebelumnya. Generasi lalu yang tak punya patah semangat, apalagi mundur dari kehendak untuk merdeka. Generasi yang penuh semangat juang, membangun organisasi-organisasi rakyat sebagai alat perjuangan merebut hak, merebut kemerdekaan.

Apa yang bisa kita ambil dari semangat sumpah pemuda? Semangat membangun organisasi sebagai alat juang. Bukan sembarang organisasi tapi organisasi kerakyatan yang mengemban tujuan dan cita bebas dari penindasan apapun hambatannya. Organisasi kerakyatan yang mampu mengumpulkan rakyat untuk saling bantu, saling bersolidaritas mengatasi hambatan. Sehingga bukan karena ada hambatan maka berhenti berjuang, tapi karena ada hambatan maka semakin kuat untuk mengemban perjuangan. Itulah nilai – nilai sumpah pemuda yang sebaik-baiknya kita  serap agar kita semakin kuat, semakin kasih pada sesama rakyat.

Dalam hal ini, FBLP, sebagai salah satu organisasi rakyat ingin merebut hak dan kemerdekaan buruh dari belenggu penindasan. Di dalam FBLP kita berkumpul bukan semata karena kita senang kumpul tapi kita mau dan hendak bicara tentang persoalan dan bagaimana mengatasinya.

Kesulitan dan kesukaran pasti ada karena jalan merubah serta merintis pasti penuh onak dan duri. Tapi justru kesulitan dan kesukaran yang membuat rakyat kecil tangguh, dan tidak patah arang. Dan itu lah kita, terbiasa dengan kesukaran dan kesulitan tapi tak pernah berhenti berpikir mengatasinya, bersama, bukan sendiri – sendiri. Siapa saja yang menjadi tangguh terbentuk dari kesulitan dan kesukaran, bukan kemudahan. Saya, selaku pengurus PP FBLP, ingin menyampaikan kepada kawan-kawan, mari jadi tenaga penggerak perubahan. Suka dan duka mari kita atasi bersama, bergandeng tangan. Kita jadikan bumi Sragen menjadi bumi yang ramah dengan rakyatnya sendiri, siapa kita? Ya kita, rakyat, yang terbiasa kerja kerja kerja sedari dulu, setiap hari dan sekarang kita kumandangkan kerja kerja kerja untuk perjuangan, untuk perubahan yang lebih baik, tanpa penindasan.

(ucapkan terima kasih pada semua, karena mengikuti acara yang sederhana dan mungkin punya kelemahan dan kekurangan. Semoga acara yang disusun oleh buruh-buruh DMST I Sragen, bermakna bagi kita semua. Salut untuk Kawan-kawan FBLP DMST I yang kini ditelantarkan perusahaan, padahal sebenarnya berhak diangkat jadi buruh tetap, karena sudah bertahun-tahun memberi keuntungan pada perusahaan. Terima kasih

Sragen, 28 Oktober 2014 
Martuti 

Minggu, 19 Oktober 2014

Berikut Komponen KHL Jakarta yang TIDAK MASUK AKAL


  1. Perhitungan item Rekreasi nilainya sangat rendah, yakni sebesar Rp. 1.916.67/bulan
  2. Perhitungan nilai kebutuhan air sebesar Rp. 9.360, tidak mencerminkan kebutuhan sesungguhnya. Karena untuk kebutuhan air minum saja sebanyak 2 liter per hari atau 60 liter per bulan setara dengan 4 galon, belum menghitung kebutuhan untuk mandi, wudhu
  3. Item Transportasi hanya dihitung sebesar Rp. 5.750 untuk sekali jalan, realitasnya bisa mencapai RP. 7.000 sekali jalan atau Rp. 14.000 /hari untuk pulang pergi atau sekitar Rp. 420.000/bulan
  4. Kebutuhan daging hanya dihitung 0.75 Kg per bulan, atau sekitar Rp. 47.000/bulan
  5. Kebutuhan ikan dihitung hanya Rp 32.856/bulan
  6. Kebutuhan Pendidikan hanya menghitung kebutuhan baca tabloid mingguan dan radio 4 band yang sudah usang ( kemudain dibagi 2 nilainya atau sekitar Rp. 14.000 saja
  7. Dibanyak daerah, kebutuhan rumah hanya dihitung sewa satu kamar
  8. Kebutuhan teh dan Kopi di Jakarta dihitung tidak lebih Rp. 12.926/bulan
  9. Kebutuhan kesehatan ( termasuk kebutuhan sabun, shampo, deodorant, pasta gigi, cukur) hanya sekitar Rp. 59.255.50/bulan

Bangkit dan Lawan Pelaku Kekerasan Seksual


KBR68H – Berbagai kasus kekerasan seksual, membuat kaum hawa cemas. Kekerasan  tidak semata berlangsung di tempat publik, tapi di lingkungan domestik. Pelakunya bisa melibatkan orang terdekat. Konferensi Perempuan Jakarta pun digagas. Wadah menyatukan suara menuntut Ibu Kota yang aman dan ramah bagi perempuan.

Thin Koesna bercerita tentang pelecehan seksual yang dialaminya. Sekitar lima bulan lalu sepulang kerja. Saat itu metromini tujuan Tanjung Priuk – Pulo Gadung yang ditumpanginya penuh sesak. “Astagrifirullah…saya lihat ke belakang, masya Allah, saya bilang ‘Maaf mas itu’, memang sudah terbuka, penisnya terbuka dan baju saya juga kena basahnya itu. Itu yang buat aku gak nyaman dan aku teriak ‘Kenapa anda ini? mending penismu itu besar, penismu itu kecil’. Saya memang berbicara seperti itu supaya menjatuhkan mentalnya dia. Orang-orang pada kaget terbengong-bengong gak nyangka bakal diomongin seperti itu,” katanya.

Buruh Menyoal Upah Murah



Jarum Jam menunjuk angka 13.00 lewat 30 menit, ketika puluhan buruh KBN Cakung berkumpul di sekretariat FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) di kawasan Semper, Jakarta Utara. Di hari Minggu siang itu, puluhan buruh berkumpul untuk membahas tentang perkembangan upah pada tahun 2015. Akankah ada penangguhan upah lagi? Bagaimana mengatasinya? Ataukah benar akan ada upah khusus KBN Cakung atau upah khusus padat karya. 

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum FBLP, Jumisih, memberikan presentasi terkait buruh perempuan dan upah padat karya. Mengawali presentasi, Jumisih menyatakan perjuangan upah adalah sebagian perjuangan hak normatif yang setiap tahun selalu berulang dan membutuhkan banyak keterlibatan buruh. Karena itu penting bagi tiap buruh untuk terlibat dalam perjuangan upah mau menang atau kalah. 

“Bicara soal upah, tidak cukup hanya dengan negosiasi dan lobi-lobi, makanya kita serukan mogok. Bahkan ketika kita mogok pun, yang lebih diperhatikan pemerintah bukan tuntutan buruh tapi berapa kerugian pengusaha”

ShareThis