Kamis, 31 Juli 2014

Belajar Dari Buruh

Edison F.Swandika, peserta Belajar Bersama Buruh Oktober 2013



Sebentar lagi, tepatnya pada 11 Agustus - 25 Agustus 2014, Politik Rakyat akan kembali mengadakan Pondok Mahasiswa. Sebelumnya, Pondok Mahasiswa I dan Mahasiswa Belajar dengan Buruh diadakan di Jakarta Utara. Pengalaman bersama buruh dalam Mogok Nasional jilid III, maupun mengorganisir buruh menjadi pelajaran penting. Kini, teman-teman mahasiswa akan kembali belajar bersama rakyat, yakni bersama kaum tani di Batang, Jawa Tengah. Menyambut baik Pondok Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Politik Rakyat, kami dari FBLP menerbitkan tulisan-tulisan teman-teman mahasiswa yang sempat mengikuti program Politik Rakyat untuk belajar bersama buruh. Kepada kaum muda dan mahasiswa, mendaftarlah di Pondok Mahasiswa II, untuk  belajar bersama rakyat dan jadikan pengalaman juang berharga.

(Pengalaman Live-in Menuju Mogok Nasional Bersama Organisasi Buruh)

Edison F.Swandika[1]

Mogok Nasional adalah hajatan besar yang dilakukan oleh buruh seluruh Indonesia untuk menuntut hak-hak normatif buruh. Tahun 2013 ini, buruh seluruh Indonesia kembali melakukan hajatan tersebut dengan empat (4) tuntutan utama, yaitu : Kenaikan upah 50%, penghapusan outsourching, hapuskan inpres no.9/2013 dan jaminan sosial seluruh masyarakat Indonesia.

Ditengah-tengah persiapan mogok nasional, perempuan mahardhika sebagai organisasi perempuan juga terlibat, khususnya persiapan didalam internal organisasi buruh Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) yang basisnya adalah buruh-buruh di Lokasi Industri Garment Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung-Jakarta Utara. Buruh-buruh KBN Cakung 98 % adalah perempuan. Penulis sebagai, salah satu anggota perempuan mahardhika komite Kota Medan, sangat senang ketika diundang untuk ikut Live-In di secretariat FBLP Semper-Jakarta Utara. Selain penulis, kolektif mahardhika dari berbagai daerah seperti Samarinda, Ternate, Makasar juga ikut live-in. diluar kolektif mahardhika juga, kawan-kawan mahasiswa dari PEMBEBASAN samarinda ikut mencari pengalama berharga dalam persiapan hajatan besar buruh 2013.

Tulisan ini akan memaparkan pengalaman pribadi penulis, sebagai pengalaman pertama terlibat dan bekerja sama dengan teman-teman buruh selama persiapan mogok nasional hingga pada saat pelaksanaan mogok nasional. Sejak tanggal, 21 Oktober hingga 3 November 2013.

Berjuang di Serikat






Tgl 26 maret tahun 2012 aku pertama kali kerja di pabrik Testil, PT.DMST.1 SRAGEN. Awal nya aku ditraining selama 3 bulan atau masa percobaan, tapi aku heran dalam training aku di bayar gaji yang tidak sesuai dengan UMK yang berlaku. Selepas masa training, aku pun di kontrak 1 tahun. Kukira menjadi buruh kontrak mendapatkan fasilitas lebih bagus,ternyata semua kita tidak mendapat kan hak sebagai buruh perempuan,seperti cuti haid,cuti hamil,keguguran,dan masih banyak hak- hak buruh yang dilanggar oleh perusaan. Adapun tgl merah kami masuk tapi tidak pernah dihitung lembur,seragam kerja harusnya pihak perusahaan yang tanggung jawab malah sebalik nya buruh sendiri yang tanggug jawab semua. Pemotongan gaji yang lebih besar dari pada gaji kita sehari,jamsostek tidak merata, fasilitas K3 pun tidak ada.

Awal januari 2014 pihak perusahaan tidak membayar lembur hari besar alasannya buruh harus kerja 40 jam dalam seminggu ataupun kita tidak masuk kerja, maka uang lemburan akan hangus,Tgl 14 januari kami mogok spotan dan berhasil 2 unit yang lumpuh total ikut mogok kerja,Selesai mogok kerja kami dikenalkan dengan seorang pengurus "FBLP" (Federasi Buruh Lintas Pabrik) dan menjelaskan banyak tentang organisasi,Setelah itu kami membentuk kepengurusan "FBLP"dan mendaftakan di Disnaker setempat.

Setelah organisasi FBLP ada di pabrik"DMST" saya sendiri pun belum yakin untuk ikut organisasi FBLP. Setelah pemogokkan ke dua kali nya pada Tgl 7 Mei 2014, di situ aku baru tersentuh hatiku untuk ikut organisasi. Sosok seorang perempuan yang sangat berani sekali memimpin masa aksi buruh PT.DMST ,dia pun bukan warga jawa ataupun buruh dmst,dia cuma mengaku dari organisasi FBLP akan siap membantu kawan DMST yang sedang bermasalah,dari situ aku baru sadar bahwa perjuangan dan berorganisasilah yang bisa membantu kita dalam kesulitan atau permasalahan di buruh,sampai saat ini aku tetap aktif denga program"FBLP. Terima kasih
"SUPARTI BURUH DMST 1.SRAGEN,"

Rabu, 30 Juli 2014

Rakyat Rembang Tidak Butuh Semen


Sukinah (tengah) berjuang melindungi alam

“Saya akan terus maju, biar dikatain gila, saya tidak takut”. Ucapan itu meluncur deras dari seorang perempuan sederhana dari Desa Kalidowo, Gunem, Rembang. Sebut saja ia Sukinah. Perempuan bungsu dari lima bersaudara ini adalah salah satu perempuan pemberani yang menentang pendirian pabrik Semen Indonesia sekaligus tambang semen di wilayah Gunung Kendeng, Gunem. Sekitar 2500 hektar tanah akan dijadikan lahan tambang Semen oleh PT. Semen Indonesia. Dari 2500 hektar tersebut, 1500 hektar sudah memperoleh ijin AMDAL dari Pemerintah Rembang. Kini, 57 hektar sedang dibangun pabrik Semen. Rencananya pabrik Semen ini akan memakan proses selama tiga tahun mendatang.

Meski AMDAL sudah keluar untuk 1500 hektar sebagai lahan tambang semen, ternyata sebagian warga masih tegas melakukan penolakan. Dari 8 desa yang lahannya hendak dijadikan tambang semen, warga dari 2 Desa yakni Desa Timbrangan dan Kalidowo tegas menolak. Sementara, warga lain memilih diam karena takut. Ketakutan warga ini beralasan karena menurut keterangan Sukinah, kerap mendapat intimidasi dan ancaman atau karena sungkan dengan perangkat desa. Namun, nurani tidak bisa berbohong, meski diam, bantuan berupa sumbangan makanan atau bentuk lainnya mengalir jua ke warga yang berani berjuang.

Melawan Korporasi Tambang Semen 



Sudah tiga tahun ini, Sukinah bersama warga lain menentang pembangunan pabrik dan tambang semen. Dua tahun awal, warga melawan sebisanya tanpa tahu bagaimana mendapatkan solidaritas dari luar Rembang, apalagi secara nasional. Namun, berkat kegigihannya, perlawanan warga akhirnya semakin masif dan mendatangkan solidaritas dari berbagai penjuru. Warga bersuara, melakukan audiensi namun jawaban yang diperoleh jauh dari memuaskan. Terhitung sudah dua kali warga menemui DPRD Rembang dan menemui jalan buntu. Tiada respon.
 

Pun, mereka sudah menemui Pemerintah Jawa Tengah terkait keberatan mereka atau keberadaan tambang semen. Hasilnya sama. Baik Pemerintah Jawa Tengah maupun Rembang justru saling melempar tanggung jawab. Warga bingung, bagaimana ijin AMDAL bisa keluar tanpa sedikitpun mereka ketahui. Usut punya usut, ternyata pihak pabrik semen memberikan sosialisasi kepada para perangkat desa tanpa melibatkan seluruh warga, termasuk warga yang terdampak. Hj Abul Manaf Suyuti, salah satu pengelola SMP Sanawiyah, menyampaikan warga tidak tahu menahu terkait AMDAL tersebut, tak merasa dilibatkan. Tak hanya itu, seorang Profesor dari UGM, yang namanya dicatut selaku penyusun AMDAL sudah membantah sebagai bagian dari penyusun. Ia hanya menjadi narasumber dan tak tahu menahu soal AMDAL yang diajukan pihak PT. Semen Indonesia. Kini, menurut Hj. Abdul Manaf, warga akan mengajukan gugatan terkait AMDAL yang dinilai penuh manipulasi tersebut.

Menurutnya, pihak PT. Semen Indonesia tak mau berumit rumit memberi sosialisasi ke warga dan cenderung menyederhanakan persoalan dengan hanya mensosialisasikan ke perangkat desa. Dipikirnya, dengan mensosialisasikan ke perangkat desa, maka otomatis warga sudah pasti tahu dan setuju. Perangkat desa yang dilibatkan pun sudah dipersiapkan supaya setuju dengan pembangunan pabrik dan tambang semen di kawasan Gunung Kendeng. Sampai sejauh ini, hanya Lurah dan Kadus Timbrangan yang berani menolak pabrik dan tambang semen. Selain itu, melalui makelar, PT. Semen Indonesia menawarkan membeli lahan seharga Rp 1 juta – 1,5 juta per hektar. Setelah kasus ini mencuat, harganya ikut meningkat berlipat-lipat, yaitu sebesar Rp 500 juta per hektar. Luar biasa bukan.

Kini pabrik Semen di lahan seluas 57 hektar sedang berjalan. Warga kecolongan karena alat berat dimasukkan di malam hari secara diam-diam. Warga tentu marah, karena persoalan belum selesai, masih berlangsung. Di hari ke tiga alat berat itu masuk, warga baru mengetahui dan meresponnya dengan menduduki jalan menuju tapak pabrik. Pada 16 Juni 2014, 85 ibu –ibu tani Rembang dengan gagah berani duduk menutup jalan. Puluhan tentara dan kepolisian pun berdatangan mencoba meminta ibu – ibu ini undur diri, menyerah. Ibu- ibu ini tidak gentar, mereka tak mau beralih. Polisi dan tentara gusar, dipaksanya ibu-ibu itu angkat kaki, mereka dilempar ke semak-semak. Tangis pun membahana di hutan yang sunyi itu, teriakan marah, sedih, kesal bercampur jadi satu. Dua ibu pun pingsan karena dilempar. Kepolisian, menurut Sukinah, bahkan menuduh kedua ibu itu pura-pura pingsan. Sukinah juga heran karena seorang wartawan yang kebetulan ada di lokasi justru tidak mau bantu dan cenderung menghindar ketika dimintai bantuan. “Tidak tahu, saya tidak tahu” ucap wartawan itu pada Sukinah ketika dimintai tolong. Tak cukup sampai di situ saja, aparat memblokade jalan menuju tapak pabrik Semen. Logistik berupa air, makanan dan minuman tidak boleh mengalir untuk para ibu tersebut. Listrik tak pula boleh dialirkan. Gelap gulita, haus dan kelaparan di hari itu demikian menyiksa tapi ikatan solidaritas antar warga membuat mereka kuat. Belum lagi dukungan yang terus mengalir dari berbagai daerah. Akhirnya pada malam hari pukul 23.00 WB (jam 11 malam), blokade dibuka. Itu, karena solidaritas dan kegigihan warga yang berlawan.

Sejak hari itulah, tenda posko tani Rembang berdiri. Warga menduduki tapak pabrik semen, dengan satu tuntutan, “Tarik Alat Berat dari Wilayah Gunung Kendeng”. Para pejabat pemerintahan dari Camat, PLT Bupati Rembang hingga Gubernur Jawa Tengah berdatangan ke posko tersebut. Para pejabat ini meminta warga untuk pulang, tak lagi duduki tapak pabrik semen. Warga menolak. Ganjar Purnowo tak hilang akal, ia menjanjikan akan memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak untuk bertemu, pakar dari pihak yang menolak pabrik semen dan yang mendukung pabrik semen akan dihadirkan juga untuk saling adu argumen. Warga mengiyakan tapi dengan satu syarat, alat berat ditarik dulu dari wilayah Gunung Kendeng. Entah ada berapa banyak alat berat yang sudah terlanjur masuk dan beroperasi. Sebelumnya, warga sempat girang ketika 2 alat berat secara berturut turut keluar dari tapak pabrik. Terhitung pada tgl 17 dan 18 Juni, setelah kejadian pelemparan para ibu yang menduduki tapak pabrik, dua alat berat dikeluarkan. Tapi Cuma dua, padahal ada banyak.

Kini, warga semakin yakin untuk terus berjuang karena merasa tidak sendiri. Solidaritas terus mengalir deras baik dari Jakarta, Semarang, Surabaya, Kerawang dan berbagai tempat lainnya dengan komunitas yang beragam. Yang paling mengharukan, adalah solidaritas dari anak- anak didik Hj. Manaf yang kolekan untuk warga. Memang tak seberapa, namun amat berharga. Dari sejumlah uang hingga 5 kg beras yang siang itu diantar ke posko. Solidaritas adalah sumber mata air dalam bentuk lain yang menyejukkan sekaligus menguatkan dan mengalahkan ketakutan. Seperti kata Sukinah “Saya akan terus maju, biar dikatain gila, saya tidak takut”. KAMI TIDAK TAKUT.



Dampak Lingkungan Tambang Semen 

Selama bertahun-tahun, sumber mata air Gunung Kendeng menjadi penghidupan masyarakat Rembang, 
Lasem, Tuban, hingga Blora. Hj Manaf menyampaikan, PDAM Rembang mengalirkan air dari Gunung Kendeng ini untuk warga melalui daerah Semen, Sale. Bila sumber air tersebut dipakai untuk tambang semen, maka debit air akan berkurang dan kualitasnya memburuk. Ada dua aliran air dari sumber mata air ini, yakni aliran ke Semen, Sale yang kemudian diambil oleh PDAM Rembang, aliran yang lainnya mengalir ke danau Tempuran Blora yang digunakan untuk irigasi pertanian. Bila sumber air tersebut dipakai untuk tambang semen maka aliran air ke Blora akan tertutup, yang berakibat pada berhentinya aliran air ke Blora padahal masyarakat Blora mengandalkan sumber air ini. Kecuali bila pihak PT. Semen Indonesia membangun aliran air alternatif. Persoalannya aliran air alternatif ini tidak ada. Pihak PT. Semen Indonesia hanya menyampaikan tambang semen tidak akan menggunakan air banyak dan lebih ke daur ulang, serta akan membangun imbuhan air untuk penampungan air sendiri. Namun, faktanya tidak demikian. 


Sukinah sendiri menyampaikan sudah ada dampak dari proses pembangunan pabrik Semen yang kini sedang berlangsung. Air sudah tidak lagi jernih seperti dahulu. Ia menuturkan air bila direbus akan berwarna putih seperti susu, sangat keruh. Karena itu, ia kerap menyaringnya hingga tiga kali dengan menggunakan kain. “Bila alam rusak, bagaimana manusianya? Tentu makin rusak”. Sebagai perantau, Sukinah pernah tinggal di Jepara untuk bekerja. Di sana, setelah didirkan PLTU, alam rusak dan masyarakat semakin tidak bisa bertahan hidup. Ia serta warga lain juga membandingkan dengan pembangunan tambang Semen di Glondongan, Tuban, yang menurutnya merusak segalanya. Warga Glondongan, Tuban jadi sulit memperoleh air. Bila dulu warga setempat tak perlu mengangsu untuk mendapat air, sekarang harus mengangsu di sumur. Janji yang dulu sempat terlontar bahwa warga akan dipekerjakan sebagai buruh di tambang semen juga hanya tinggal janji. “Orang luar yang bekerja di sana, bukan warga setempat”.

“Bagi pemerintah mungkin pembangunan semen menguntungkan, bisa meningkatkan PAD (Pendapatan Daerah) namun bagi masyarakat, ini adalah ancaman. Warga akan kehilangan akses terhadap air bersih untuk air minum hingga irigasi pertanian” Ucap Sukinah. Menurutnya, pemerintah mestinya berpikir jangka panjang dan memperhitungkan kerusakan bumi dan lingkungan. Tanpa alam, tanpa bumi, manusia tidak bisa hidup.

Sabtu, 21 Juni 2014

Solidaritas: Buruh Seluruh Dunia Bersatulah






Beberapa hari lalu, tepatnya hari Selasa, 17 Juni 2014, FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) kedatangan tamu istimewa. Selain teman- teman LIPS (Lembaga Informasi Perburuhan Sedane), turut hadir dua teman baru dari Hongkong dan India. Mereka berasal dari ARMC (Asia Monitor Resource Centre) dan sengaja mampir ke sekretariat FBLP untuk berbagi pengalaman juang dan metode juang. Siapa saja tamu istimewa ini? Ada Mbak Dina, Abu dan Azhar dari LIPS serta Christal Chan dari Hongkong, tak lupa Omana George dari India.

Teman-teman FBLP pun senang dengan hadirnya tamu istimewa ini. Maka berlangsunglah diskusi serta sharing yang penuh rasa solidaritas. Omana dan Christal berbagi tentang situasi perburuhan di Bangladesh, Kamboja dan Pakistan. Kepada teman-teman FBLP, Omana menceritakan tentang situasi buruh di Bangladesh yang luar biasa buruk. Teman-teman buruh tentu masih ingat dengan peristiwa kebakaran di Rana Plaza, Bangladesh, sebuah lokasi industri yang terdiri dari gedung bertingkat sebagai pabriknya. Nah, Rana Plaza pernah rubuh pada akhir 2012 lalu. Ribuan buruh tewas karenanya. Jauh – jauh hari sebelum peristiwa naas itu, pengusaha sudah ditegur supaya menghentikan aktivitas produksi karena kondisi gedung bertingkat yang sudah retak dan rentan rubuh. Namun karena rakus, pengusaha memaksakan aktivitas produksi dan para buruh dikunci di dalam. Tak heran, ketika bangunan itu rubuh, buruh sulit melarikan diri. Kalaupun ada yang selamat, itu karena mereka memaksakan diri melompat dari jendela pabrik.

ShareThis